Breaking

Ingin upgrade skill tanpa ribet? Temukan kelas seru dan materi lengkap hanya di YukBelajar.com. Mulai langkah suksesmu hari ini! • Mau lulus? Latih dirimu dengan ribuan soal akurat di tryout.id.

Netizen dan Anies Baswedan Kritik Oxford Soal Rafflesia Hasseltii

Netizen dan Anies Baswedan Kritik Oxford Soal Rafflesia Hasseltii

Editor
Editor
calendar_today
schedule 3 min read

Universitas Oxford, Inggris mendapatkan kiritkan tajam dari netizen Indonesia serta akademisi dan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan baru-baru ini. Universitas terkenal itu kritik terkait ekspedisi penemuan bunga Rafflessia hasseltii di Sumatera Barat.

Diketahui beberapa waktu lalu peneliti University Oxford, Chris Thorogood bersama tim peneliti Indonesia berhasil menemukan Raflessia Hasseltii. “Kami menemukannya! Kami berjalan siang dan malam menembus hutan hujan Sumatera yang dijaga harimau dan hanya bisa diakses dengan izin khusus demi ini, Rafflesia hasseltii. Hanya sedikit orang yang pernah melihat bunga ini, dan kami menyaksikannya mekar pada malam hari. Ajaib, “tulis Chris Thorogood waktu itu.

Temuan itu langsung mendapat apresiasi dari universitas Oxford. Sayangnya apresiasi itu seakan mengeyampingkan upaya keras tim peneliti dari Indonesia. “Rafflesia hasseltii: A Plan seen more by tigers than people. Yesterday, Oxford Botanic Garden’s @thorogoodchris1 was part of a team that trekked day and night through tiger-patrolled Sumatran (an island in Indonesia)  rainforest to find Rafflesia hasseltii,” tulis mereka di akun media sosial resmi X, Minggu (23/11/2025).

Unggahan itu memang jelas tidak menyertakan penjelasan mengenai rekan peneliti Indonesia yang terlibat. Hilangnya kredit ilmiah ini memicu kritik karena dianggap bertentangan dengan etika kolaborasi dalam riset internasional.

Kritik public semakin menguat setelah Anies Baswedan ikut menyampaikan tanggapan terbuka melalui akun media sosialnya. Ia menegur Oxford dengan menyebut bahwa nama peneliti   Indonesia seharusnya tidak diabaikan.

“Dear @UniofOxford, our Indonesian researchers, Joko Witono, Septi Andriki, dan Iswandi, are not NPCs. Name them too”, tulis Anies.

Unggahan itu memicu gelombang respons netizen yang melihat persoalan ini bukan hanya soal penyebutan nama, tetapi juga sesitivitas terhadap kontribusi ilmiah dari negara berkembang. Beberapa komentar bernada sinis menyebut respons Universitas Oxford sebagai :typical colonizers,” sementara komentar lain menyatakan bahwa public seharusnya “tidak perlu meminta validasi dari institusi bekas penjajah.”

Sebagaian netizen juga membawa perspektif personal. Ada yang menceritakan pengalaman mendampingi orang tua meneliti Rafflesia di Kalimantan, menunjukkan bahwa proses menemukan bunga tersebut bukan hal sederhana. Ada pula yang mengingatkan bahwa dalam video ekspedisi terlihat keterlibatan warga lokal, “Jangan lupakan Pak Iwan juga, sepertinya beliau yang pertama kali menemukan.”

Di sisi lain, ada komentar yang menc oba meredam situasi dengan menyerukan agar publik tidak terlalu beraksi, dan menyarankan agar lembaga riset Indonesia seperti BRIN mempublikasikan temuan serupa secara mandiri.

Ironisnya, dalam unggahan pribadi, Chris Thorogood justru sudah menyebutkan nama ketiga peneliti Indonesia secara lengkap. Perbedaan ini menimbulkan pertanyaan public me ngenai alasan akun resmi Oxford tidak melakukan hal yang sama, padahal dokumentasi  Rafflesia Hasseltii yang mekar merupakan momen yang sangat jarang terhadi dan hanya mungkin tercapai melalui kerja bersama.