Jakarta, 15 Oktober 2023, Joko Widodo, Presiden Indonesia, menyatakan bahwa presiden itu dipilih rakyat, diucapkan berkali-kali. Mungkin sambal menyindir kepada PDI Perjuangan yang selalu mengungkit kemenangan Jokowi dan anak-anaknya selama ini, sebanyak 7x kemenangan. Bahwa itu sebenarnya pilihan rakyat, tidak ada andil dari partai.
PDI Perjuaangan saat ini merasa dibalas air tuba oleh Joko Widodo, sudah dijadikan presiden tetapi di mas akhir kepresiden malahan mendukung calon presiden lain, dan Jokowi ingin membangun dinasti kekuasaan.
Sejak Soekarno menjadi presiden RI, dan selanjutnya sampai SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), tidak pernah mempersiapkan anak-anaknya pada saat menjabat. Tetapi berbeda dengan Jokowi, yang terang-terangan, akan cawe-cawe (turut campur), termasuk penentuan capres dan cawapres.
Walaupun PDI Perjuangan sudah menetapkan Ganjar Pranowo sebagai capres, tetapi Jokowi memiliki pilihan lain, dan mengatur supaya Gibran Rakabuming Raka bisa menjadi cawapres Prabowo Subianto.
Panda Nababan menyatakan Jokowi dan keluarga tidak memiliki moral yang baik dalam berpolitik. “Posisi partai dan rakyat adalah sesuatu yang berbeda”, kata Panda Nababan. Jangan koar-koar presiden dipilih rakyat dan menganggap partai tidak ada pengaruhnya, padahal dia sudah menjadi presiden, pungkas Panda Nababan.
Bima Arya, “Saya tidak ikhlas jika Jokowi memihak Prabowo dan Gibran”.
Butet,”Jokowi malahan membangun dinasti politik, sangat memalukan, di jaman demokrasi sekarang, kok malahan ingin mengatur demokrasi dan membuat dinasti politik”
PDI Perjuangan, akan segera menarik semua dukungan ke keluarga Jokowi, karena pada saat pencalonan anak-mantunya selalu menggunakan ancaman kepada keluarga Megawati Soekarnoputri. Apalagi dengan penyataan Jokowi yang menyatakan bahwa presiden itu dipilih rakyat, dengan kata lain partai tidak ada pengaruhnya.
Anak-anak Jokowi akan menggunakan kendaraan partai politik selain PDI Perjuangan. PDI Perjuangan pun tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, dengan mendukung anak-anak Jokowi.
Cawe-cawe di pemilu hanya dilakukan presiden Jokowi, belum ada cawe-cawe di presiden sebelumnya. Jokowi ingin memastikan Gibran menjadi wakil presiden RI dengan cawe-cawenya, Jokowi tidak akan mundur, walaupun anaknya menjadi salah satu konstestan di pemilu. Prabowopun seperti kerbau yang dicocok hidungnya, selalu menurut apa kata Jokowi, karena Prabowo mengetahui cawe-cawenya Jokowi bisa memenangkannya menjadi presiden RI ke 8, bagaimanapun caranya, apalagi sedang menjabat sebagai presiden saat ini.
Rakyat dianggap bodoh semua dengan semua rencana Jokowi. Dorongan untuk mengundurkan diri sebelum pemilu dilaksanakan, pasti ada dari mahasiswa, tetapi Jokowi selalu tidak bergeming, selalu mempertahankan dengan mengadu domba rakyat dengan aparat pemerintah.
Kira liat saja nanti apakah Jokowi akan mengundurkan diri atau makin bersemangat untuk mengatur jalannya pemilu demi Prabowo-Gibran.
