Rasulullah ï·º mempunyai perhatian besar terhadap perempuan. Hal ini tak lain karena kedudukan agung yang dimiliki perempuan dalam Islam.
Salah satu bentuk perhatian Rasulullah ï·º tersebut yaitu, ada delapan perkara yang diwanti-wanti Rasulullah ï·º sebagaimana dilansir Al Masrawy via republika pada Sabtu (12/3/2022) berikut ini:
1. Bercerai tanpa sebab syari
Seorang istri tidak boleh mengajukan gugatan cerai (khulu) tanpa adanya alasan yang jelas. Demikian juga tidak oleh seorang istri meminta suaminya (yang melakukan poligami) untuk menceraikan istrinya yang lain, sehingga dia memiliki suaminya sepenuhnya. Rasulullah ï·º bersabda:
أيÙّما امرأة٠سألت زَوجَها الطَّلاقَ Ù…ÙÙ† غير Ø¨Ø£Ø³Ù ÙØØ±Ø§Ù…ÙŒ علَيها Ø±Ø§Ø¦ØØ©Ù الجنَّةÙ
“Siapa pun perempuan yang meminta talak kepada suaminya tanpa ada alasan maka haram baginya wewangian surga,” (HR Abu Dawud dan Tirmizi). Dalam hadits lainnya dijelaskan:
لاَ ÙŠÙŽØÙÙ„ÙÙ‘ لاÙمْرَأَة٠تَسْأَل٠طَلاَقَ Ø£ÙØ®Ù’تÙهَا Ù„ÙØªÙŽØ³Ù’تَÙÙ’Ø±ÙØºÙŽ ØµÙŽØÙ’Ùَتَهَا ØŒ ÙÙŽØ¥Ùنَّمَا لَهَا مَا Ù‚ÙØ¯Ùّرَ لَهَا
“Tidak dihalalkan bagi seorang wanita menuntut talak saudaranya agar dia dapat menggantikan tempatnya, sesungguhnya baginya adalah apa yang ditakdirkan untuknya” (HR Bukhari no 4857, dan Muslim, no 1413). Ibnu Hajar menjelaskan yang dimaksud saudara perempuan itu adalah hubungan agama (pernikahan).
2. Nabi melarang Muslimah mentato, mencukur alis, dan mengikir gigi
لعن الله الواشمات والمستوشمات والنامصات والمتنمصات والمتÙلجات Ù„Ù„ØØ³Ù† المغيرات خلق الله
“Allah melaknat wanita pembuat tato dan yang bertato, wanita yang dicukur alis, dan dikikir giginya, dengan tujuan mempercantik diri mereka merubah ciptaan Allah Ta’ala.” (HR Bukhari)
لعن الله الواصلة والمستوصلة والواشمة والمستوشمة
Artinya, “Allah melaknat wanita penyambung rambut dan yang disambung rambutnya, dan wanita pembuat tato dan yang bertato.” (HR Bukhari)
Maka Nabi melarang mentato kulit, menyambung rambut, serta namash yakni mencukur atau mencabut seluruh alis.
3. Nabi melarang perempuan menyerupai laki-laki
Rasulullah ï·º melarang Muslimah menyerupai laki-laki. Dan begitupun sebaliknya, Rasulullah ï·º melarang lelaki menyerupai perempuan. Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “لعن الله المتشبهين من الرجال بالنساء، والمتشبهات من النساء بالرجال
Rasulullah ï·º bersabda, “Allah melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR Bukhari).
4. Berlebihan berkabung
Rasulullah ï·º melarang Muslimah berkabung atas kematian seseorang lebih dari tiga malam kecuali yang meninggal adalah suaminya. Dalam sebuah riwayat dijelaskan:
لا ÙŠØÙ„ لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن ØªØØ¯ على ميت Ùوق ثلاث ليال، إلا زوج، ÙØ¥Ù†Ù‡Ø§ ØªØØ¯ عليه أربع أشهر وعشرا
“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkabung atas mayit di atas tiga malam kecuali bagi suaminya maka wanita itu boleh berkabung atas suaminya selama empat bulan sepuluh hari.”
Dan dalam hadits Imam Bukhari dijelaskan dilarang juga menampar-nampar pipi, merobek saku dan berdoa seperti orang jahiliyah atas kematian seseorang atau keluarganya (maksudnya menghujat Allah atas kematian seseorang).
لَيْسَ Ù…Ùنَّا مَنْ Ù„ÙŽØ·ÙŽÙ…ÙŽ Ø§Ù„Ù’Ø®ÙØ¯Ùودَ ÙˆÙŽØ´ÙŽÙ‚ÙŽÙ‘ الْجÙÙŠÙوبَ وَدَعَا Ø¨ÙØ¯ÙŽØ¹Ù’ÙˆÙŽÙ‰ الْجَاهÙÙ„ÙيَّةÙ
“Bukan bagian dari kami orang yang menampar-nampar pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah (ketika ditimpa musibah).” (HR Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu).
5.Hindari bergaul dengan lelaki lain di jalan
Rasulullah ï·º melarang wanita bergaul dengan lelaki di jalan yaitu ketika wanita tersebut keluar dari masjid. Sebagaimana hadits:
عَنْ ØÙŽÙ…ْزَةَ بْن٠أَبÙÙ‰ Ø£ÙØ³ÙŽÙŠÙ’د٠الأَنْصَارÙىّ٠عَنْ أَبÙÙŠÙ‡Ù Ø£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽÙ‡Ù Ø³ÙŽÙ…ÙØ¹ÙŽ Ø±ÙŽØ³Ùولَ اللَّه٠-صلى الله عليه وسلم- ÙŠÙŽÙ‚Ùول٠وَهÙÙˆÙŽ Ø®ÙŽØ§Ø±ÙØ¬ÙŒ Ù…ÙÙ†ÙŽ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙŽØ³Ù’Ø¬ÙØ¯Ù Ùَاخْتَلَطَ Ø§Ù„Ø±Ù‘ÙØ¬ÙŽØ§Ù„٠مَعَ Ø§Ù„Ù†Ù‘ÙØ³ÙŽØ§Ø¡Ù ÙÙÙ‰ الطَّرÙيق٠Ùَقَالَ رَسÙول٠اللَّه٠-صلى الله عليه وسلم- Ù„ÙÙ„Ù†Ù‘ÙØ³ÙŽØ§Ø¡Ù Ø§Ø³Ù’ØªÙŽØ£Ù’Ø®ÙØ±Ù’Ù†ÙŽ ÙÙŽØ¥Ùنَّه٠لَيْسَ Ù„ÙŽÙƒÙنَّ أَنْ تَØÙ’Ù‚Ùقْنَ الطَّرÙيقَ, عَلَيْكÙنَّ Ø¨ÙØÙŽØ§Ùَات٠الطَّرÙيق٠Ùَكَانَت٠الْمَرْأَة٠تَلْتَصÙÙ‚Ù Ø¨ÙØ§Ù„Ù’Ø¬ÙØ¯ÙŽØ§Ø±Ù ØÙŽØªÙ‘ÙŽÙ‰ Ø¥Ùنَّ ثَوْبَهَا Ù„ÙŽÙŠÙŽØªÙŽØ¹ÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‚Ù Ø¨ÙØ§Ù„Ù’Ø¬ÙØ¯ÙŽØ§Ø±Ù Ù…Ùنْ Ù„ÙØµÙوقÙهَا بÙÙ‡Ù
Diriwayatkan dari Hamzah bin Abi Usaid Al-Anshari dari ayahnya (Abu Usaid Al-Anshar radhiyallahu ‘anhu) bahwasanya dia mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda ketika beliau sedang keluar dari masjid (dan melihat) laki-laki dan perempuan bercampur baur di jalan.
Lalu beliau صلى الله عليه وسلم berkata kepada para wanita), “Mundurlah! Sesungguhnya bukan hak kalian berjalan di tengah jalan. Hendaklah kalian berjalan di pinggir jalan. Abu Usaid Al-Anshary radhiyallahu ‘anhu) berkata, “Maka para wanita mendekatkan dirinya ke tembok sampai-sampai baju mereka terkait tembok karenanya” (HR Abu Dawud)
