Breaking

Ingin upgrade skill tanpa ribet? Temukan kelas seru dan materi lengkap hanya di YukBelajar.com. Mulai langkah suksesmu hari ini! • Mau lulus? Latih dirimu dengan ribuan soal akurat di tryout.id.

Ladang Bisnis Baru Lewat Mahalnya Biaya Rapid Test, Benarkah?

Ladang Bisnis Baru Lewat Mahalnya Biaya Rapid Test, Benarkah?

Editor
Editor
calendar_today
schedule 2 min read

Guna menekan angka penyebaran dan penularan covid-19 , pemerintah gencar melakukan test cepat atau sering kita dengar dengan rapid test. Namun langkah pemerintah tersebut banyak menuai banyak kritik dari berbagai lapisan masyarakat, karena begitu mahalnya biaya rapid test ini. Untuk satu kali test saja bisa sampai sekitar 300 ribu hingga 2 jutaan dan harus membayar dari kocek sendiri  tidak ditanggung pemerintah ataupun diberikan keringanan untuk membayar.

Seharusnya biaya rapid test ini semuanya ditanggung oleh pemerintah karena pemerintah sendiri yang mengusulkan adanya rapid test ini. Tapi pada prakteknya dilapangan semua biaya ditanggung penuh oleh masyarakat, padahal rapid test ini seakan-akan menjadi hal wajib bagi masyarakat Indonesia yang ingin kembali melakukan aktifitas seperti sekolah, bekerja atau berdagang  kembali diluar kota tujuan mereka.

Sebenarnya kebanyakan masyarakat sekarang sedang dalam keadaan yang benar-benar susah, dan masih saja mau diperas lagi dengan biaya rapid test ini. Ternyata dalam pandemi sekarang ini masih saja ada oknum-oknum yang ingin mengambil keuntungan lewat mahalnya biaya rapid test saat ini.

Sebenarnya dana untuk penanggulangan covid-19 sudah di umumkan naik lagi diangka 695,2 triliun, yang seharusnya bisa menggratiskan biaya rapid test yang terlalu mahal. Karena rapid test ini seakan wajib dilakukan, banyak dari masyarakat kita yang mengeluh tidak bisa kembali keluar kota tempat mereka mencari nafkah, sekolah atau kuliah dan bekerja seperti biasanya karena tidak bisa membayar biaya rapid test yang mahal ini.

Jadi sebenarnya kemanakah biaya besar triliunan tersebut mengalir ?? ataukah Cuma akan menjadi bahan bancakan baru bagi para tikus berdasi, sungguh sangat disayangkan dana sebesar itu tidak ada sedikitpun yang mengalir untuk menggratiskan atau setidaknya mengurangi biaya rapid test menjadi lebih terjangkau lagi untuk masyarakat kita yang kurang mampu.

Bayangkan saja disaat masa sulit seperti ini masyarakat harus mengeluarkan biaya yang lumayan besar hanya untuk melakukan rapid test yang sebenarnya adalah anjuran dari pemerintah sendiri. Semoga saja kedepannya pemerintah lebih memperhatikan lagi masyarakat bawah dan bisa menggratiskan biaya rapid test ini.